BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Pendidikan merupakan
salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam merealisasi tujuan hidup
umat manusia demi mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Maju mundurnya
suatu bangsa sangat tergantung pada sistem pendidikan yang dilaksanakan.
Melalui pendidikan warga negara suatu bangsa dapat dibina, dididik dan di
bentuk kepribadiannya, supaya dapat hidup dengan layak ditengah-tengah
masarakat. Karena itu pendidikan agama harus diajarkan pada anak didik semenjak
kecil hingga dewasa dalam berbagai bentuk dan variasi pendidikan, baik
lingkungan formal, non formal maupun informal.
Dalam Undang-Undang
Dasar 1945, telah di gariskan bahwa “Semua warga negara berhak mendapat pengajaran”. [1]Demikian
juga Undang- Undang SPN No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikian Nasional
pada Bab VI pasal 13 ayat 1 disebutkan bahwa:
Jalur pendidikan
terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan dalam pasal 14 disebutkan bahwa
jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi. Dalam pasal 15 disebutkan pula bahwa jenis pendidikan
mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademis, profesi, vokasi, keagamaan dan
khusus. Selanjutnya dipertegas dalam pasal 16 yang menyebutkan bahwa jalur,
jenjang dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan
yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemeritah daerah, dan masyarakat.[2]
Di ungkapkan
pembelajaran yang selama ini di praktekkan oleh guru untuk mencapai tujuan
tersebut, guru pendidikan agama memegang tanggung jawab dan peranan yang sangat
besar terhadap kelancaran dan kelangsungan pendidikan agama di lembaga-lembaga
pendidikan tempat ia mengajar.
Berbagai upaya telah
dilakukan untuk mencapai tujuan yang efektif dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama khususnya di SMP Negeri Simpang Tiga, namun masih juga terdapat berbagai
kekurangan. Kekurangan tersebut di antaranya adalah belum tercapainya tujuan
pengajaran agama sesuai dengan tujuan
yang ditetapkan dalam standar ini, kemudian belum sempurnanya kurikulum
Pendidikan Agama Islam, kurang
memadai fasilitas pengajaran, kurangnya
guru pendidikan agama yang berkualitas, minimnya guru pendidikan agama islam,
karena metode yang digunakan oleh guru kurang cocok dengan materi yang disampaikan
dalam proses pembelajaran.[3]
Dalam mewujudkan
generasi yang berkualitas tersebut, dia tuntut kepada orang tua, masyarakat,
serta pemerintah baik Departemen Agama maupun Pemerintah Daerah agar selalu
memperhatikan pelaksanaan pendidikan agama islam diberbagai lembaga pendidikan
baik lingkungan formal, non formal maupun informal. Pendidikan secara formal
adalah pendidikan melalui kegiatan belajar mengajar pada lembaga pendidikan
seperti halnya pembelajaran bidang studi Agama Islam Pada SMP Negeri Simpang Tiga. Sedangkan pendidikan
non formal dilakukan dilingkungan masyarakat melalui kegiatan pengajian yang
diarahkan untuk membina aqidah Islamiah.
Di segi yang lain kita
melihat bahwa ketika seseorang anak telah memasuki usia sekolah, maka perlu
perhatian yang serius dari pada keluarga mereka untuk memperhatikan pendidikan
mereka.
Pendidikan merupakan usaha sadar setiap bangsa yang dilakukan sebagai
salah Satu upaya peningkatan segala bentuk sumber daya manusia, atau dapat
dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan oleh manusia terhadap
manusia muda untuk merubah aspek kognitif, afektif, dan spikomotor. Dengan kata
lain pendidikan adalah “suatu usaha memanusiakan manusia muda”.[4]
Pelaksaanan pendidikan itu sendiri dapat dilaksanakan dalam keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Salah satu bidang pendidikan yang dilaksanakan di Madrasah adalah bidang studi agama Agama
Islam. “Pengajaran adalah salah satu proses untuk mencapai tujuan pendidikan.[5]
Proses tersebut berfungsi untuk membimbing perkembangan siswa sesuai
dengan tugas dan perkembangannya yang harus dijalankan. Jika ditinjau secara
luas, Perkembangan diri manusia selalu mengalami perubahan yang merupakan hasil
dari proses belajar. Dalam belajar bidang studi Agama Islam di sekolah
diharapkan dapat membentuk pola piker yang positif dengan pengalaman yang
mengindahkan konsep, untuk melahirkan generasi penerus yang Islami dan
intelektual di masa-masa yang akan datang.
Pada hakekatnya setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda,
akibatnya dalam kemampuan memahami konsep pendidikan Agama pun juga akan
berbeda-beda pula. Di samping itu juga dipengaruhi oleh kompetensi guru,
fasilitas (sarana dan prasarana), dan keadaan lingkungan. Selaras dengan hal di
atas Hudoyo mengemukakan bahwa: “sekali struktur kognitif seorang anak sudah
terbentuk, maka sukarlah untuk di ubah”.[6]
Sementara itu di SMP Negeri 1 Simpang Tiga terlihat beberapa gejala yang
tidak baik dalam pembelajaran , antara
lain:
1.
Siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran PAI.
2.
Adanya siswa yang keluar masuk pada saat proses
pembelajaran berlangsung.
3.
Guru mengeluh
dengan sikap siswa yang lamban dalam proses pembelajaran PAI, dan lain
sebagainya.
Seharusnya dalam setiap proses pembelajaran semua
pihak harus dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga peran dan
efektifitas pendidikan Agama Islam di sekolah umum dapat dijadikan sebagai
landasan spiritual ibadah mereka dalam keseharian, serta menjadi bekal bagi
mereka dalam pembelajaran PAI pada jenjang selanjutnya.
Berdasarkan gambaran permasalahan di atas , maka sangat perlu diadakan sebuah penelitian
untuk mengetahui sejauh mana kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran PAI.
Untuk mengetahui jawaban yang jelas dari permasalahan tersebut di atas, maka
penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul :“ Kendala Siswa dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Studi
Kasus pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga)”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran permasalahan di atas dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain sebagai
berikut:
1.
Bagaimana proses pembelajaran PAI pada SMP Negeri 1
Simpang Tiga.
2.
Apa saja kendala yang dihadapi siswa dalam proses
pembelajaran PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga.
3.
Upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh guru PAI
terhadap kendala yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran PAI pda SMP Negeri
1 Simpang Tiga.
C. Tujuan
Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelian dalam penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk mengetahui proses pembelajaran PAI pada SMP
Negeri 1 Simpang Tiga.
2.
Untuk mengetahui bentuk kesulitan yang dihadapi siswa
dalam proses pembelajaran PAI pada SMSP Negeri 1 Simpang Tiga.
3.
Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru
PAI terhadap kendala yang dihadapi oleh siswa dalam proses pembelajaran PAI
Negeri1 Simpang Tiga.
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagi siswa, agar dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam pembelajaran PAI.
2.
Bagi guru, untuk dapat dijadikan salah satu bahan
masukan dalam mengajar bidang studi PAI khususnya dan mata pelajaran lain
umumnya.
3.
Bagi sekolah, untuk dapat dijadikan salah satu bahan
masukan dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan.
4.
Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan menjadi
landasan berpijak dalam rangka menindak lanjuti penelitian ini dengan ruang
lingkup yang lebih luas lagi.
E. Penjelasan
Istilah
Untuk menghindari timbulnya kesalah pahaman dan
kekeliruan dalam memahami pembahasan yang sedang diteliti, maka perlu
dijelaskan beberapa istilah yang menyangkut dengan penulisan ini; antara lain :
1.
Kendala
Kendala atau disebutkan juga sebagai hambatan adalah
suatu hal yang menjadi segala sesuatu hal, pekerjaan terhambat karena adanya
suatu hal atau peristiwa. Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta kendala
berarti “problema atau kesulitan”.[7]
Berdasarkan pengertian di atas, maka kendala yang
penulis maksud dalam penulisan karya ilmiah ini dalah masalah-masalah yang
dihadapi siswa dalam proses pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam pada SMP
Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011 / 2012.
2.
Siswa
Menurut Suharmini Arikunto kata siswa diartikan
“dengan siapa saja yang terdaftar sebagai objek didik di suatu lembaga
pendidikan, di tingkat dasar dan tingkat menengah, yaitu SD, SMP, SMA”.[8] Siswa adalah “ murid atau anak didik yang
akan kita jadikan perubahan perilakunya melalui proses pembelajaran yang biasa kita jadikan pada pendidikan
formal”.[9]
Siswa dalam penelitian ini adalah anak-anak yang
berada pada bangku sekolah dalam setiap jenjang bangku pendidikan, akan tetapi
dalam penelitian ini dikhususkan siswa SMP Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran
2011 / 2012.
3.
Pembelajaran
Pembalajaran adalah asal kata dari belajar di tambah
awalan “pem – an” yang bermakna proses belajar”.[10] Belajar
adalah “suatu usaha yang dilakukan secara sistematis dan terpola yang bertujuan
untuk merobah pola pikir manusia, dengan kata lain belajar adalah upaya
memanusiakan manusia muda”.[11]
Berdasarkan pengertian di atas, maka pembelajaran
merupakan suatu proses belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik
yang sistematisdan terpola dengan jangka waktu yang telah disepakati di SMP
Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011/2012.
4.
Bidang Studi Agama Islam
Bidang studi atau pelajaran adalah “sesuatu yang dipelajari
atau diajarkan”.[12] Sedangkan Agama Islam yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah pelajaran agama yang diajarkan pada tingkat sekolah umum.
Didalamnya memuat semua aspek keagamaan Agama Islam secara menyeluruh.
Pendidikan Agama Islam, dalam hal ini merupakan suatu mata pelajaran yang mesti
diikuti siswa-siswa sekolah umum sesuai dengankeputusan menteri, pada SMP
Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011/2012.
5.
SMP Negeri 1 Simpang Tiga
SMP Negeri 1 Simpang Tiga
adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang terletak di Kecamatan Simpang
Tiga, dan merupakan lembaga tingkat
menengah. SMP Negeri 1 Simpang Tiga terletak di Desa Mamplam, kira-kira 100 meter
arah utara ibu kota kecamatan.
BAB
III
METODE PENELITIAN
A. Jenis
Penelitian
Setiap penelitian memerlukan metodelogi penelitian dan teknik
pengumpulan data tertentu sesuai dengan masalah yang diteliti. Metode merupakan
“suatu cara yang dipakai untuk membahas dan meneliti suatu masalah”.[1] Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
yaitu”suatu penelitian yang temuannya tidak memperoleh melalui prosudur
statistik atau bentuk hitungan lainnya”.[2]Penelitian
ini dengan mencari data lapangan di olah tidak menggunakan uji statistik, dan
angka, dan menurut Margona pendekatan kualitatif tertulis atau lisan dari
orang-orang dan pelaku yang diamati”.[3]
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian kualitatif ini
adalah metode deskriptif, yaitu suatu cara yang menggambarkan dan menafsirkan
data yang ada dengan menggunakan teknik tertentu, untuk kejelasan teknis dan
instrument yang diaplikasikan, maka terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang
jenis penelitian yaitu :
Penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis sesuai
dengan kriteria yang mendasarinya. Diantaranya bila ditinjau dari bidang ilmu
yang di kaji, maka penelitian ini termasuk kedalam penelitian pendidikan. Bila
ditinjau dari lokasi penelitiannya, penelitian ini termasuk kedalam penelitian
lapangan. Sedangkan bila ditinjau dari cara menganalisis datanya, maka
penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
Simpang Tiga didirikan pada tanggal 14 Juni 1982, dan pada
tanggal 25 Mei 2005 selesai direnovasi. SMP Negeri 1 Simpang Tiga terletak di
Desa Pante Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie Propinsi Nanggroe Aceh
Darussalam.
Adapun alasan penulis
memilih lokasi ini adalah dianggap tepat karena mengingat ada kesesuaian dengan
variable yang diteliti, dan di dukung oleh kondisi murid dan guru yang
merupakan objek bagi penelitian ini, selain itu karena mengingat kemampuan
peneliti sendiri dalam menjangkau lokasi penelitian.
C. Sumber Data
Di dalam penyelidikan-penyelidikan khususnya dalam penyelidikan bidang
ilmu pengetahuan sosial kerapkali orang tidak menyelidiki seluruh objek
penelitian. Hal ini di karenakan alasan-alasan yang bersifat teknis, sehingga
orang menyelidiki sebagian saja dari objek penelitian tersebut. Bahkan
sebenarnya dalam banyak hal, penyelidikan terhadap seluruh individu merupakan
suatu tindakan yang tidak efesien, karena banyak membutuhkan waktu dan tenaga
serta dana. Sebahagian individu yang diselidiki disebut sampel, sedangkan seluruh individu yang menjadi objek penyelidikan
yang akan dikenai generalisasi disebut “populasi.”[4]
Sesuai dengan tujuan penelitian di atas yang menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri
1 Simpang Tiga yang berjumlah 533 orang siswa dan 4 guru bidang studi
PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga tersebut serta kepala Sekolah sebagai key informan (Informasi Kunci). Mengingat populasinya sangat
banyak, sehingga sebagian populasi dijadikan sampel.
Hal ini sesuai dengan
yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto: “ jika sampelnya kurang dari 100 maka
diambil semua, tetapi jika 100 lebih maka yang diambil 10-15 % atau sesuai
dengan kemampuan peneliti”.[5]
Berdasarkan pendapat
tersebut di atas, maka sampel dalam penelitian ini diambil 10 % dari populasi,
sehingga sampelnya berjumlah 40 orang ditambah 4 guru bidang studi PAI serta
seorang kepala sekolah.
Di sini penulis mengambil sampel kelas II, mengingat sampel pada
tingkatan tersebut merupakan sampel yang sudah matang dan komplit dalam segala
aspek.
D. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah :
1.
Library Research ( Penelitian Kepustakaan ), yaitu :
Penelitian yang dilakukan dengan cara mencari
data-data dari sumber perpustakaan, baik dengan membaca buku, artikel atau
sumber-sumber lain yang ada relevansi dengan teori penelitian ini, sehingga
dapat memperkuat landasan teori penelitian ini.
2.
Field Research ( Penelitian Lapangan ), yaitu :
Penelitian yang dilakukan dengan menitik beratkan pada kegiatan lapangan
dalam rangka mengumpulkan data untuk sampai pada kebenaran. Untuk itu digunakan
beberapa teknik pengumpulan data lapangan, antara lain :
a.
Wawancara
Wawancara yaitu untuk
mendapatkan data di lapangan. Penulis langsung berhadapan dengan responden atau
informan dengan cara mengajukan
sejumlah data dan pertanyaan secara lisan kepada Kepala Sekolah, dan empat
orang guru studi PAI. Dengan demikian maka penulis akan mendapatkan data-data
yang lebih akurat dan faktual.
b.
Angket
Angket yaitu suatu teknik untuk memperoleh data yang
digunakan secara tidak langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan tertulis
yang dipersiapkan. Angket ini penulis ajukan kepada siswa SMP Negeri 1 Simpang
Tiga yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Angket yang diajukan berupa angket terbuka, di mana
para siswa dapat menjawab di luar jawaban yang tersedia. Sehingga dengan
demikian penulis akan mendapat data yang lebih sempurna yang belum semuanya
terjangkau melalui hasil wawancara.
c. Observasi
Observasi yaitu mengadakan pengamatan serta pemantauan langsung ke
lokasi penelitian tentang keadaan anak-anak berupa perilaku, sikap keseharian
mereka di sekolah.[6]
d.
Teknik Mengolah Data
Untuk mengolah data penulis menggunakan rumus persentase:
p =
x100%
P = Nlai
Persentase Jawaban
F =
Frekuensi Nilai Jawaban
n = Jumlah
Responden
100 % =
Bilangan Konstanta.
e.
Teknis Analisis Data
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Simpng Tiga pada tahun ajaran
2012 / 2013. Populasi seluruh siswa berjumlah 533 siswa, akan tetapi penulis
mengambil sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 orang siswa.
Adapun maksud dari analisis data ini adalah untuk menghitung perbedaan
signifikansi jawaban responden yang kemudian ditafsirkan untuk menjadikan sebagai
alat mengambil kesimpulan.
Untuk mengolah data disesuaikan dengan bentuk kenyataan yang tercantum
dalam angket. Angket yang penulis gunakan berupa angket terbuka, dimana
responden dapat menjawab lebih dari satu alternatif jawaban yang disediakan.[7]
f.
Keabsahan Data
Untuk keabsahan data dalam penelitian ini, data-data dapat dipercaya
kebenaran, konsistensi dari prosudur dan kenetralan dari temuan dan
keputusan-keputusannya. Maka sesuai dengan pendekatan penelitian yaitu
pendekatan kualitatif, maka penelitian kualitatif, keabsahan data dapat
dilakukan dengan viliditasin dan realiabilitasi.[8]
Sugiono mengatakan bahwa dalam menguji keabsahan data dalam penelitian
ditekankan pada uji validitas dan realiabilitas data. Dalam penelitian
kualitatif, kriteria yang paling utama terhadap data hasil penelitian adalah
valid, fariabel dan objektif. Validitas merupakan derajat ketetapan antara data
yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh
peneliti. Maka data yang valid merupakan data-data yang tidak berbeda antara
data yang dilaporkan oleh setiap peneliti dengan data yang sesungguhnya yang
terjadi pada objek penelitian yaitu kenyataan yang sebenarnya di lapangan.
Dalam sebuah
penelitian, validitas dan realiabilitas adalah alat ukur yang sangat penting untuk
mendeteksi keabsahan data dalam penelitian kuantitatif, karena dua hal tersebut
merupakan karakter utama yang menunjukkan apakah suatu alat ukur itu baik atau
tidak baik. Validitas dan realiabilitas merupakan dua hal yang harus diketahui
setiap peneliti sebelum digunakan agar kesimpulan penelitian tidak terjadi
kekeliruan dan tidak memberikan gambaran yang jauh dari kenyataan yang
seharusnya.
Dalam penelitian ini, validitas alat ukur akan
dipenuhi dengan validitas isi suatu alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur
itu benar-benar mengukur apa yang hendak di ukur. Dalam penyusunan alat ukur
dalam penelitian ini dipertimbangkan untuk menggunakan kesahihan isi (conten validity). Penggunaan validitas
isi akan menunjukkan sejauh mana butir-butir dalam alat ukur mencakup
keseluruhan kawasan yang hendak di ukur oleh alat ukur tersebut.
Dan realiabilitas alat ukur merupakan tingkat kepercayaan hasil dari
suatu pengukuran. Alat ukur yang memiliki realiabilitas adalah alat ukur yang
mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya. Dengan kata lain kepercayaan alat
ukur adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif
sama bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama. Dalam
penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis berpedoman pada buku Panduan
Penulisan Karya Ilmiah STAI AL-Aziziyah Samalanga Kabupaten Bireuen Tahun
ajaran 2011/2012.
[7]
Panduan Penulisan Karya
Ilmiah, STAI Al-Aziziah, (Bireuaen: Al- Azz: Press, 2012)
[8]Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan, Pendidikan Kualitatif dan R & D, (Bandung:
Alfabeta,2008), hal.
[2] Muhammad
Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan, (Yokjakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal.29.
[3]
Departemen Agama RI, Kendali Mutu
Pendidikan Agama Islam , (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam. 2001), hal.
[4] Koestar Partowisastro, Diagnosa
Dan Pemecahan Kesulitan Belajar, ( Jakarta : Erlangga, 2000 ), hal. 27.
[5] Depdikbud, Kurikulum Sekolah
Menengah Umum, ( Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999), hal. 2.
[6]
Herman Hudoyo ,
Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaannya di Depan Kelas, (Surabaya : Usaha
Nasional, 1997), h.
[7]W.J.S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976),hal.
334.
[8]Suharmini Arikunto, Pengelolaan
Kelas dan Siswa, Sebuah Pendekatan
Evaluatif,(Jakarta: Rajawali, 1952), hal. 11.
[9]
WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia… hal.
[10]WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia….hal
[11]H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Puspa Swara, 1998 ), hal. 3.
[12]Joula Ekaningsih Paimin, Agar Anak Pintar Pelajaran,(Jakarta : Puspa Swara, 2000), hal.
