INILAH SAYA BUATTEMEN2 KU SEMUANYA

INILAH SAYA BUATTEMEN2 KU SEMUANYA
beginilah dalam kehidupan dalam dunia ini

Rabu, 18 September 2013




BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam merealisasi tujuan hidup umat manusia demi mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Maju mundurnya suatu bangsa sangat tergantung pada sistem pendidikan yang dilaksanakan. Melalui pendidikan warga negara suatu bangsa dapat dibina, dididik dan di bentuk kepribadiannya, supaya dapat hidup dengan layak ditengah-tengah masarakat. Karena itu pendidikan agama harus diajarkan pada anak didik semenjak kecil hingga dewasa dalam  berbagai  bentuk dan variasi pendidikan, baik lingkungan formal, non formal maupun informal.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945, telah di gariskan bahwa “Semua warga negara berhak mendapat pengajaran”. [1]Demikian juga Undang- Undang SPN No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikian Nasional pada Bab VI pasal 13 ayat 1 disebutkan bahwa:
Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan dalam pasal 14 disebutkan bahwa jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dalam pasal 15 disebutkan pula bahwa jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademis, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus. Selanjutnya dipertegas dalam pasal 16 yang menyebutkan bahwa jalur, jenjang dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemeritah daerah, dan masyarakat.[2]

Di ungkapkan pembelajaran yang selama ini di praktekkan oleh guru untuk mencapai tujuan tersebut, guru pendidikan agama memegang tanggung jawab dan peranan yang sangat besar terhadap kelancaran dan kelangsungan pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan tempat ia mengajar.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai tujuan yang efektif dalam Pembelajaran Pendidikan Agama khususnya di SMP Negeri Simpang Tiga, namun masih juga terdapat berbagai kekurangan. Kekurangan tersebut di antaranya adalah belum tercapainya tujuan pengajaran  agama sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam standar ini, kemudian belum sempurnanya kurikulum Pendidikan Agama Islam, kurang memadai fasilitas pengajaran, kurangnya guru pendidikan agama yang berkualitas, minimnya guru pendidikan agama islam, karena metode yang digunakan oleh guru kurang cocok dengan materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran.[3]
Dalam mewujudkan generasi yang berkualitas tersebut, dia tuntut kepada orang tua, masyarakat, serta pemerintah baik Departemen Agama maupun Pemerintah Daerah agar selalu memperhatikan pelaksanaan pendidikan agama islam diberbagai lembaga pendidikan baik lingkungan formal, non formal maupun informal. Pendidikan secara formal adalah pendidikan melalui kegiatan belajar mengajar pada lembaga pendidikan seperti halnya pembelajaran bidang studi Agama Islam Pada SMP Negeri Simpang Tiga. Sedangkan pendidikan non formal dilakukan dilingkungan masyarakat melalui kegiatan pengajian yang diarahkan untuk membina aqidah Islamiah.
Di segi yang lain kita melihat bahwa ketika seseorang anak telah memasuki usia sekolah, maka perlu perhatian yang serius dari pada keluarga mereka untuk memperhatikan pendidikan mereka.
Pendidikan merupakan usaha sadar setiap bangsa yang dilakukan sebagai salah Satu upaya peningkatan segala bentuk sumber daya manusia, atau dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia muda untuk merubah aspek kognitif, afektif, dan spikomotor. Dengan kata lain pendidikan adalah “suatu usaha memanusiakan manusia muda”.[4]
Pelaksaanan pendidikan itu sendiri dapat dilaksanakan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Salah satu bidang pendidikan yang dilaksanakan  di Madrasah adalah bidang studi agama Agama Islam. “Pengajaran adalah salah satu proses untuk mencapai tujuan pendidikan.[5]
Proses tersebut berfungsi untuk membimbing perkembangan siswa sesuai dengan tugas dan perkembangannya yang harus dijalankan. Jika ditinjau secara luas, Perkembangan diri manusia selalu mengalami perubahan yang merupakan hasil dari proses belajar. Dalam belajar bidang studi Agama Islam di sekolah diharapkan dapat membentuk pola piker yang positif dengan pengalaman yang mengindahkan konsep, untuk melahirkan generasi penerus yang Islami dan intelektual di masa-masa yang akan datang.
Pada hakekatnya setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda, akibatnya dalam kemampuan memahami konsep pendidikan Agama pun juga akan berbeda-beda pula. Di samping itu juga dipengaruhi oleh kompetensi guru, fasilitas (sarana dan prasarana), dan keadaan lingkungan. Selaras dengan hal di atas Hudoyo mengemukakan bahwa: “sekali struktur kognitif seorang anak sudah terbentuk, maka sukarlah untuk di ubah”.[6]
Sementara itu di SMP Negeri 1 Simpang Tiga terlihat beberapa gejala yang tidak baik  dalam pembelajaran , antara lain:
1.      Siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran PAI.
2.      Adanya siswa yang keluar masuk pada saat proses pembelajaran berlangsung.
3.       Guru mengeluh dengan sikap siswa yang lamban dalam proses pembelajaran PAI, dan lain sebagainya.
Seharusnya dalam setiap proses pembelajaran semua pihak harus dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga peran dan efektifitas pendidikan Agama Islam di sekolah umum dapat dijadikan sebagai landasan spiritual ibadah mereka dalam keseharian, serta menjadi bekal bagi mereka dalam pembelajaran PAI pada jenjang selanjutnya.
Berdasarkan gambaran permasalahan di atas ,  maka sangat perlu diadakan sebuah penelitian untuk mengetahui sejauh mana kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran PAI. Untuk mengetahui jawaban yang jelas dari permasalahan tersebut di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul :“ Kendala Siswa dalam Pembelajaran  Pendidikan Agama Islam, (Studi Kasus pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga)”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran permasalahan di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses pembelajaran PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga.
2.      Apa saja kendala yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga.
3.      Upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh guru PAI terhadap kendala yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran PAI pda SMP Negeri 1 Simpang Tiga.

C.  Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelian dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui proses pembelajaran PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga.
2.      Untuk mengetahui bentuk kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran PAI pada SMSP Negeri 1 Simpang Tiga.
3.      Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru PAI terhadap kendala yang dihadapi oleh siswa dalam proses pembelajaran PAI Negeri1 Simpang Tiga.

D.  Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Bagi siswa, agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran PAI.
2.         Bagi guru, untuk dapat dijadikan salah satu bahan masukan dalam mengajar bidang studi PAI khususnya dan mata pelajaran lain umumnya.
3.         Bagi sekolah, untuk dapat dijadikan salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan.
4.         Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan berpijak dalam rangka menindak lanjuti penelitian ini dengan ruang lingkup yang lebih luas lagi.
                                                        
E.  Penjelasan Istilah
Untuk menghindari timbulnya kesalah pahaman dan kekeliruan dalam memahami pembahasan yang sedang diteliti, maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang menyangkut dengan penulisan ini; antara lain :


1.    Kendala
Kendala atau disebutkan juga sebagai hambatan adalah suatu hal yang menjadi segala sesuatu hal, pekerjaan terhambat karena adanya suatu hal atau peristiwa. Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta kendala berarti “problema atau kesulitan”.[7]
Berdasarkan pengertian di atas, maka kendala yang penulis maksud dalam penulisan karya ilmiah ini dalah masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011 / 2012.
2.    Siswa
Menurut Suharmini Arikunto kata siswa diartikan “dengan siapa saja yang terdaftar sebagai objek didik di suatu lembaga pendidikan, di tingkat dasar dan tingkat menengah, yaitu SD, SMP, SMA”.[8]  Siswa adalah “ murid atau anak didik yang akan kita jadikan perubahan perilakunya melalui proses pembelajaran  yang biasa kita jadikan pada pendidikan formal”.[9]
Siswa dalam penelitian ini adalah anak-anak yang berada pada bangku sekolah dalam setiap jenjang bangku pendidikan, akan tetapi dalam penelitian ini dikhususkan siswa SMP Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011 / 2012.

3.    Pembelajaran
Pembalajaran adalah asal kata dari belajar di tambah awalan “pem – an” yang bermakna proses belajar”.[10] Belajar adalah “suatu usaha yang dilakukan secara sistematis dan terpola yang bertujuan untuk merobah pola pikir manusia, dengan kata lain belajar adalah upaya memanusiakan manusia muda”.[11]     
Berdasarkan pengertian di atas, maka pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik yang sistematisdan terpola dengan jangka waktu yang telah disepakati di SMP Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011/2012.
4.    Bidang Studi Agama Islam
Bidang studi atau pelajaran adalah “sesuatu yang dipelajari atau diajarkan”.[12]  Sedangkan Agama Islam yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pelajaran agama yang diajarkan pada tingkat sekolah umum. Didalamnya memuat semua aspek keagamaan Agama Islam secara menyeluruh. Pendidikan Agama Islam, dalam hal ini merupakan suatu mata pelajaran yang mesti diikuti siswa-siswa sekolah umum sesuai dengankeputusan menteri, pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga tahun ajaran 2011/2012.
5.    SMP Negeri 1 Simpang Tiga
SMP Negeri 1 Simpang Tiga adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang terletak di Kecamatan Simpang Tiga,  dan merupakan lembaga tingkat menengah. SMP Negeri 1 Simpang Tiga terletak di Desa Mamplam, kira-kira 100 meter arah utara ibu kota kecamatan.

                                                                               BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Jenis Penelitian
Setiap penelitian memerlukan metodelogi penelitian dan teknik pengumpulan data tertentu sesuai dengan masalah yang diteliti. Metode merupakan “suatu cara yang dipakai untuk membahas dan meneliti suatu masalah”.[1] Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu”suatu penelitian yang temuannya tidak memperoleh melalui prosudur statistik atau bentuk hitungan lainnya”.[2]Penelitian ini dengan mencari data lapangan di olah tidak menggunakan uji statistik, dan angka, dan menurut Margona pendekatan kualitatif tertulis atau lisan dari orang-orang  dan pelaku yang diamati”.[3]
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian kualitatif ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu cara yang menggambarkan dan menafsirkan data yang ada dengan menggunakan teknik tertentu, untuk kejelasan teknis dan instrument yang diaplikasikan, maka terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang jenis penelitian yaitu :
Penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis sesuai dengan kriteria yang mendasarinya. Diantaranya bila ditinjau dari bidang ilmu yang di kaji, maka penelitian ini termasuk kedalam penelitian pendidikan. Bila ditinjau dari lokasi penelitiannya, penelitian ini termasuk kedalam penelitian lapangan. Sedangkan bila ditinjau dari cara menganalisis datanya, maka penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif.

B.  Lokasi Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Simpang Tiga didirikan pada tanggal 14 Juni 1982, dan pada tanggal 25 Mei 2005 selesai direnovasi. SMP Negeri 1 Simpang Tiga terletak di Desa Pante Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Adapun alasan penulis memilih lokasi ini adalah dianggap tepat karena mengingat ada kesesuaian dengan variable yang diteliti, dan di dukung oleh kondisi murid dan guru yang merupakan objek bagi penelitian ini, selain itu karena mengingat kemampuan peneliti sendiri dalam menjangkau lokasi penelitian.

C.    Sumber Data
Di dalam penyelidikan-penyelidikan khususnya dalam penyelidikan bidang ilmu pengetahuan sosial kerapkali orang tidak menyelidiki seluruh objek penelitian. Hal ini di karenakan alasan-alasan yang bersifat teknis, sehingga orang menyelidiki sebagian saja dari objek penelitian tersebut. Bahkan sebenarnya dalam banyak hal, penyelidikan terhadap seluruh individu merupakan suatu tindakan yang tidak efesien, karena banyak membutuhkan waktu dan tenaga serta dana. Sebahagian individu yang diselidiki disebut sampel, sedangkan seluruh individu yang menjadi objek penyelidikan yang akan dikenai generalisasi disebut “populasi.[4]
Sesuai dengan tujuan penelitian di atas yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri  1 Simpang Tiga yang berjumlah 533 orang siswa dan 4 guru bidang studi PAI pada SMP Negeri 1 Simpang Tiga tersebut serta kepala  Sekolah sebagai key informan (Informasi Kunci). Mengingat populasinya sangat banyak, sehingga sebagian populasi dijadikan sampel.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto: “ jika sampelnya kurang dari 100 maka diambil semua, tetapi jika 100 lebih maka yang diambil 10-15 % atau sesuai dengan kemampuan peneliti”.[5] Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka sampel dalam penelitian ini diambil 10 % dari populasi, sehingga sampelnya berjumlah 40 orang ditambah 4 guru bidang studi PAI serta seorang kepala sekolah.
Di sini penulis mengambil sampel kelas II, mengingat sampel pada tingkatan tersebut merupakan sampel yang sudah matang dan komplit dalam segala aspek.      

D.  Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis  gunakan dalam penelitian ini adalah :

1.    Library Research ( Penelitian Kepustakaan ), yaitu :
Penelitian yang dilakukan dengan cara mencari data-data dari sumber perpustakaan, baik dengan membaca buku, artikel atau sumber-sumber lain yang ada relevansi dengan teori penelitian ini, sehingga dapat memperkuat landasan teori penelitian ini.
2.      Field Research ( Penelitian Lapangan ), yaitu :
Penelitian yang dilakukan dengan menitik beratkan pada kegiatan lapangan dalam rangka mengumpulkan data untuk sampai pada kebenaran. Untuk itu digunakan beberapa teknik pengumpulan data lapangan, antara lain :
a.       Wawancara
  Wawancara yaitu untuk mendapatkan data di lapangan. Penulis langsung berhadapan dengan responden atau informan dengan cara mengajukan sejumlah data dan pertanyaan secara lisan kepada Kepala Sekolah, dan empat orang guru studi PAI. Dengan demikian maka penulis akan mendapatkan data-data yang lebih akurat dan faktual.           
b.      Angket
Angket yaitu suatu teknik untuk memperoleh data yang digunakan secara tidak langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan tertulis yang dipersiapkan. Angket ini penulis ajukan kepada siswa SMP Negeri 1 Simpang Tiga yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Angket yang diajukan berupa angket terbuka, di mana para siswa dapat menjawab di luar jawaban yang tersedia. Sehingga dengan demikian penulis akan mendapat data yang lebih sempurna yang belum semuanya terjangkau melalui hasil wawancara.
c.  Observasi
Observasi yaitu mengadakan pengamatan serta pemantauan langsung ke lokasi penelitian tentang keadaan anak-anak berupa perilaku, sikap keseharian mereka di sekolah.[6]
d.      Teknik Mengolah Data
Untuk mengolah data penulis menggunakan rumus persentase:
                 p = x100%
P = Nlai Persentase Jawaban
F = Frekuensi Nilai Jawaban
n = Jumlah Responden
100 % = Bilangan Konstanta.
e.       Teknis Analisis Data
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Simpng Tiga pada tahun ajaran 2012 / 2013. Populasi seluruh siswa berjumlah 533 siswa, akan tetapi penulis mengambil sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 orang siswa.
Adapun maksud dari analisis data ini adalah untuk menghitung perbedaan signifikansi jawaban responden yang kemudian ditafsirkan untuk menjadikan sebagai alat mengambil kesimpulan.
Untuk mengolah data disesuaikan dengan bentuk kenyataan yang tercantum dalam angket. Angket yang penulis gunakan berupa angket terbuka, dimana responden dapat menjawab lebih dari satu alternatif jawaban yang disediakan.[7]

f.       Keabsahan Data
                Untuk keabsahan data dalam penelitian ini, data-data dapat dipercaya kebenaran, konsistensi dari prosudur dan kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya. Maka sesuai dengan pendekatan penelitian yaitu pendekatan kualitatif, maka penelitian kualitatif, keabsahan data dapat dilakukan dengan viliditasin dan realiabilitasi.[8] Sugiono mengatakan bahwa dalam menguji keabsahan data dalam penelitian ditekankan pada uji validitas dan realiabilitas data. Dalam penelitian kualitatif, kriteria yang paling utama terhadap data hasil penelitian adalah valid, fariabel dan objektif. Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Maka data yang valid merupakan data-data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh setiap peneliti dengan data yang sesungguhnya yang terjadi pada objek penelitian yaitu kenyataan yang sebenarnya di lapangan.
            Dalam sebuah penelitian, validitas dan realiabilitas adalah alat ukur yang sangat penting untuk mendeteksi keabsahan data dalam penelitian kuantitatif, karena dua hal tersebut merupakan karakter utama yang menunjukkan apakah suatu alat ukur itu baik atau tidak baik. Validitas dan realiabilitas merupakan dua hal yang harus diketahui setiap peneliti sebelum digunakan agar kesimpulan penelitian tidak terjadi kekeliruan dan tidak memberikan gambaran yang jauh dari kenyataan yang seharusnya.
             Dalam penelitian ini, validitas alat ukur akan dipenuhi dengan validitas isi suatu alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang hendak di ukur. Dalam penyusunan alat ukur dalam penelitian ini dipertimbangkan untuk menggunakan kesahihan isi (conten validity). Penggunaan validitas isi akan menunjukkan sejauh mana butir-butir dalam alat ukur mencakup keseluruhan kawasan yang hendak di ukur oleh alat ukur tersebut.
                Dan realiabilitas alat ukur merupakan tingkat kepercayaan hasil dari suatu pengukuran. Alat ukur yang memiliki realiabilitas adalah alat ukur yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya. Dengan kata lain kepercayaan alat ukur adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif sama bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama. Dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis berpedoman pada buku Panduan Penulisan Karya Ilmiah STAI AL-Aziziyah Samalanga Kabupaten Bireuen Tahun ajaran 2011/2012.



                [1]I B Netra, Statistika Infrensial,(Surabaya: Usaha Nasional), hal. 24

                [2]Sudarwan Danim, Menjadi Penelitian Kualitatif,  (Bandung: Pustaka Setia,2002), hal.


[3] Margona, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal.
[4] I B Netra, Statistika Infrensial.., hal.

[5] Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu .., hal
[6] Ibid, …hal. 22
[7] Panduan Penulisan Karya Ilmiah, STAI Al-Aziziah, (Bireuaen: Al- Azz: Press, 2012)
[8]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendidikan Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta,2008), hal.



[1] Undang –Undang Dasar 1945, Pasal 31 ayat 1.

[2] Muhammad Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Yokjakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal.29.
[3] Departemen Agama RI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam , (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam. 2001), hal.
[4] Koestar Partowisastro, Diagnosa Dan Pemecahan Kesulitan Belajar, ( Jakarta : Erlangga, 2000 ), hal. 27.
[5] Depdikbud, Kurikulum Sekolah Menengah Umum, ( Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999), hal. 2.

[6] Herman Hudoyo , Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaannya di Depan Kelas, (Surabaya : Usaha Nasional, 1997), h.

[7]W.J.S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976),hal. 334.

[8]Suharmini Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, Sebuah Pendekatan Evaluatif,(Jakarta: Rajawali, 1952), hal. 11.

[9] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia… hal. 

[10]WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia….hal 

[11]H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Puspa Swara, 1998 ), hal. 3.        

[12]Joula Ekaningsih Paimin, Agar Anak Pintar Pelajaran,(Jakarta : Puspa Swara, 2000), hal.